Artikel

Bekerja Di Kapal Pesiar
Persiapan mental merupakan salah satu faktor yang perlu dipertimbangkan sebelum memutuskan untuk bekerja di kapal pesiar. Pada umumnya orang hanya memandang bekerja di kapal pesiar itu dari sisi ‘gemerlap’ saja semisal banyak uang dan bisa keliling dunia secara gratis sehingga faktor mental kurang diperhatikan. Akibatnya tidak sedikit yang harus pulang (bahkan dipulangkan) sebelum waktunya entah itu karena tidak bisa survive dengan kerasnya ‘kehidupan’ di kapal atau bisa juga karena faktor – faktor non-teknis lainnya. Tetapi jangan salah sangka. Para awak kapal pesiar itu bukan pergi liburan.Mereka sedang bekerja di atas kapal pesiar. Kondisi kerja staf kapal pesiar, seperti perwira, kapten, staf cruise, entertainer dan pekerja casino boleh dibilang relatif bagus. Tetapi kenyataannya sungguh berbeda buat para pekerja restoran, petugas kebersihan, pekerja dapur dan para pekerja dibawah dek kapal. Dilihat dari standar perburuhan AS, banyak dari mereka mendapat upah kurang layak, akomodasi seadanya, makan sekedarnya serta berada dalam sistem kerja yang tidak pasti. Sejak awal, calon pekerja kapal pesiar memang sudah “diperas” oleh agen mereka sebelum berangkat. Mereka harus membayar sebelum diterima kerja di atas kapal, menurut seorang awak kapal. Menurut Organisasi Buruh Sedunia (ILO), praktek yang jamak dipraktekkan di Indonesia ini sebetulnya illegal karena biaya itu seharusnya ditanggung oleh perusahaan kapal pesiar.

Dengan menggunakan taktik halus agar awak kapal pesiar tidak mudah bersatu melawan kebijakan perusahaan, para manajemen kapal pesiar seringkali membatasi kebebasan awaknya untuk berserikat dengan merekrut staff dari berbagai negara, etnik, kebudayaan serta bahasa. Kerap kali atasan di kapal pesiar mengancam awak kapal pesiar yang suka mengeluh untuk segera angkat koper. Kejadian di atas kapal pesiar ini dikarenakan sering adanya pelecehan seksual oleh atasan. Menolak bisa-bisa pekerjaan melayang. ITF mendapati ada saja beberapa predator seksual di atas kapal pesiar yang beroperasi lebih dari 15 tahun. Berbagai hal miring tersebut terjadi di kapal pesiar yang notabene beroperasi di perairan Amerika Serikat karena banyak kapal pesiar ini berkantor pusat di Amerika Serikat, tetapi 60% armadanya didaftarkan di negeri lain, seperti Bahama, Panama dan Liberia, beroperasi di perairan internasional dan berbendera negara sekenanya (flag of convenience). Ini sangat menguntungkan perusahaan pelayaran, tapi menyesakkan awak kapal pesiarnya. Maksudnya, dengan “flag of convenience” semua perusahaan kapal pesiar bisa berkelit dari tanggung jawab membayar income tax di negeri Paman Sam. Mereka juga bisa menghindar dari undang – undang perburuhan, termasuk kesehatan dan keselamatan kerja serta peraturan pencemaran lingkungan hidup.

Mayoritas awak kapal pesiar Indonesia jelas bukan pelompat kapal. Meskipun berada dalam suasana kerja berat dan sering “abusif”, anak-anak kapal pesiar Indonesia ini tidak punya banyak pilihan. Pahlawan devisa ini memilih bertahan untuk menafkahi keluarga di tanah. Kemilau uang dengan jumlah besar seringkali menyilaukan mata air karena disamping itu susah sekali mencari pekerjaan yang lebih baik dengan bermodal ijazah seadanya di Indonesia. Namun ada beberapa hal yang perlu dipertimbangkan dan dipersiapkan bila ingin bekerja di kapal pesiar, yaitu :

1. Penyakit homesick.
Faktor ini kelihatan sepele tetapi ketika sudah berada di kapal, penyakit homesick ini bisa mempengaruhi mental sehingga kemampuan kerjapun menjadi turun. Kerja di kapal pesiar memerlukan konsentrasi dan mobilitas yang tinggi, ceria dan selalu tersenyum.
2. Pengendalian Emosi.
Bekerja di kapal pesiar sangat menguras energi dan benturan – benturan sosial sesama pekerja tidak bisa dihindarkan.
3. Kemampuan adaptasi.
Crew member di kapal pesiar berasal dari berbagai negara sehingga kita dituntut untuk bisa beradaptasi dengan mereka.
4. Lampu kuning bagi yang suka minum.
Sebisanya jangan sampai terjebak terlalu jauh dengan dunia alkohol dan harus tahu batas kemampuan diri.
5. Hilangkan mental priyayi.
Tidak peduli bagimana status sosial anda di daerah asal, karena saat dikapal semua crew member adalah sama secara sosial dan dibedakan berdasarkan jabatan dan posisi masing – masing.
6. Physically fit.
Kerja di kapal pesiar menuntut jam kerja yang panjang sehingga kemampuan fisik menjadi faktor yang utama.

Analisis
Pemikiran Ulrich Beck Tentang Masyarakat Risiko

Setiap pilihan ataupun tindakan pastilah memiliki resiko atau konsekuensi yang harus ditanggung, dalam hal baik atau buruk. Adanya krisis dapat dikatakan sebagai resiko di tahap awal dari perbuatan yang telah dilakukan. Namun, resiko yang dimaksud tentu saja pada pemikiran negatif. Kemudian dengan adanya krisis tersebut akan menimbulkan bencana yang dapat hadir secara tiba-tiba. Entah dapat diperkirakan sebelumnya, atau tidak sama sekali. Dalam bahasa Yunani Kuno, krisis memiliki arti akan kondisi yang dapat terjadi pada diri sendiri atau di tingkat masyarakat. Sehingga, dampak dari adanya krisis dapat mempengaruhi pada banyak aspek kehidupan, yaitu sistem sosial, politik, dan ekonomi. Maka, jika manusia mengalami krisis, hal tersebut akan berdampak pada sistem yang ada di sekitar ruang lingkupnya. Seperti beberapa tahun terakhir ini sangat mencuat sekali fenomena tawaran atau iklan yang ada di mana mana, baik kota maupun daerah tentang pekerjaan di Kapal Pesiar dan menjajinkan gaji yang melimpah. Tawaran tersebut didapat dan dapat diakses dengan mudah di sekolah – sekolah perhotelan adapun lewat kursus – kursus singkat disebuah hotel berbintang. Pelatihan tersebut memberi bekal secara khusus untuk bekerja di kapal, ada juga yang menyalurkan secara langsung untuk bekerja di kapal pesiar.

Menurut Ulrich Beck seorang sosiolog kontemporer asal Jerman, menjelaskan mengenai perbuatan yang mengandung resiko atas meningkatnya teknologi. Adanya ilmu pengetahuan dan industrialisme yang bukannya mengurangi resiko, malah dapat menghadirkan resiko akibat tindakan-tindakan yang menyimpang. Beck yang dikenal sebagai pencipta atas gambaran mengenai “dunia masyarakat resiko” yang tidak dibatasi oleh tempat atau waktu. Pada batas-batas tertentu, resiko dihasilkan oleh masyarakat modern yang telah mengalami banyak perubahan pola kehidupan. Karena, industri yang berlangsung akan menimbulkan berbagai macam efek samping dengan konsekuensi berbahaya, bahkan mematikan bagi masyarakat, sebagai akibat dari adanya globalisasi yang berlangsung. Dari pemikiran-pemikiraan Beck tersebut dapat dikatakan mengenai kelas sosial yang dijadikan sebagai pengorban dan korbannya. Artinya, resiko akan terpusat pada bangsa yang miskin, dan bangsa kaya dapat menjauhkan resiko sejauh mungkin. Adanya materi dan kekuasaan dapat digunakan bangsa kayak sebagai sarana untuk menjauhkan resiko tersebut, dengan mengorbankan bangsa miskin sebagai ‘tumbal’. Parahnya, bangsa kaya dapat memperoleh keuntungan dari resiko yang mereka timbulkan. Mereka dapat mengatasi efek buruk yang ada ketika resiko tersebut muncul, dengan menghasilkan dan menjual teknologi. Sayangnya, bangsa kaya tidak semudah itu untuk kabur dari resiko yang harus diicip juga. Pada konteks ini, Beck menyebutnya dengan “efek bumerang”, yang mana penyerangan dari resiko akan berbalik pada subjek yang menghasilkan mereka. Sehingga, sering kali masyarakat penikmat hasil dari modernisasi yang terjebak atas apa yang telah mereka nikmati. Perubahan – perubahan yang dirasakan dan dijalani dapat dikatakan sebagai topeng dalam menutupi krisis identitas yang terjadi. Manusia haruslah ada karena ia menjadi dirinya sendiri dengan proses pembentukan pribadi yang diyakininya. Manusia yang bertindak atas kehendaknya sendiri akan lebih mengerti posisinya berada di mana, dan bukannya ditentukan oleh situasi kelas sosial manusia. Menurut Ulrich Beck, bahaya yang dihadapi masyarakat berisiko dapat diidentifikasi menjadi tiga bagian yaitu: krisi ekologi, krisis ekonomi global, dan jaringan teroris internasional. Masalah sentral dari modernitas klasik berupa kekayaan, namun pada era modern berubah menjadi bagaimana risiko dicegah, diminimumkan, dan disalurkan. Kebanyakan orang berpandangan bahwa dunia kapal pesiar menjanjikan glamor dan kemewahan. Dalam era modern seperti ini maka semua risiko harus ditangani dengan cara defensive menjauhkan diri dari bahaya.

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa dimana dalam keinginan manusia ingin merubah hidupnya akan ditempuh jalan apa saja yang bisa dilakukan, disini kapal pesiar adalah solusi atas gambaran singkat mengenai angan – angan besar yang ditawarkan dengan gaji tinggi, dan faktor pendorong lainya. Ini diperjuangkan untuk sebuah masa depan yang dianggapnya akan lebih menjanjikan. Mereka tidak lagi memikirkan bagaimana bahaya bekerja jauh dari keluarga. Dorongan ini juga tedak terlepas dari kemajuan modernisasi, dimana setiap manusia akan memiliki logika konsumtif dalam hidupnya, jadi mau tidak mau mereka harus bekerja ekstra untuk kehidupan lebih baik. Situasi inilah yang dimanfaatkan para pemilik modal besar untuk mengiring para pekerja tanpa harus memikirkan resiko yang ada. Kemudian para tenaga kerja ini diberi tawaran – tawaran menarik agar mereka melepaskan rasa takutnya untuk bekerja di kapal pesiar dengan bermodalkan kepercayaan diri yang kuat dan demi meraih mimpinya menjadi orang yang sukses.

Daftar Pustaka
Ritzer, George dan Douglass J. Goodman. 2008 Teori Sosiologi. Kreasi Wacana. Yogyakarta
Rachmad D. Sosiologi Lingkungan

http://www.kabarinews.com/article.cfm?articleId=31367

http://www.devari.org/2008/05/02/bekerja-di-kapal-pesiar-persiapan-mental/